Daan Mogot muda adalah salah satu lulusan pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) terbaik dan memiliki otak yang cemerlang. Saat memasuki PETA usianya baru 14 tahun padahal minimal persyaratan masuk adalah 18 tahun. Daan Mogot seangkatan dengan Zulkifli Lubis (Wakasad dan Bapak Intelijen Indonesia) dan Kemal Idris.
Dibawah bimbingan Kapten Yanagawa ia diajari taktik tempur gerilya dan keterampilan dalam menggunakan berbagai jenis senjata. Selain itu mereka juga diajari cara memelihara burung merpati, karena merpati sangat dibutuhkan dalam komunikasi masa itu.
Karena prestasi yang gemilang, Daan Mogot dipercaya untuk melatih pasukan PETA di Bali. Pada saat Indonesia merdeka, Daan Mogot dan kawan-kawan seangkatan di PETA pun bergabung bersama TNI. Ia diangkat dengan pangkat Mayor, inilah perwira dengan pangkat Mayor termuda dalam sejarah Indonesia. Usianya pada saat itu 16 tahun.
Yang lebih hebat lagi, di usia 17 tahun ia dan kawan-kawan mendirikan sekolah calon perwira Akademi Militer di Tangerang. Daan Mogot pun diangkat sebagai direktur pertamanya.
Mayor muda ini tidak berumur panjang, ia gugur pada tanggal 26 Januari 1946. Pada saat itu Daan Mogot bersama 70 taruna Akademi Militer Tangerang berniat melucuti senjata tentara Jepang yang baru saja menyerah pada sekutu. Kejadian ini terjadi di daerah Lengkong, Serpong - Tangerang.
Daan Mogot tertembak oleh tentara Jepang yang akan mereka lucuti. Ia bersama 33 taruna dan 3 perwira gugur dalam peristiwa tersebut.
Sumber : merdeka.com

